Memilih MI Pengelola Reksa Dana

mnwiria's picture

Keputusan investasi sering merupakan hal yang tidak mudah karena menyangkut masa depan dan gaya hidup. Jika salah, terkadang akibat yang harus ditanggung tidaklah ringan, seperti hilangnya tabungan, menurunnya gaya hidup, bahkan sampai gangguan kejiwaan. Oleh karena itu, sebelum berinvestasi di reksa dana ada baiknya calon investor menelaah dengan cermat manajer investasi yang mengelola reksa dana tersebut. Dalam tulisan kali ini penulis mencoba memberikan gambaran mengenai apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan oleh calon investor dalam memilih manajer investasi pengelola reksa dana.

Berikut adalah faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan calon investor dalam memilih MI:

1. Perizinan MI

Untuk memastikan apakah MI sudah mengantongi izin dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), tidak ada salahnya calon investor mengecek situs Bapepam-LK di www.bapepam.go.id. Dalam situs ini dapat digali berbagai macam informasi, mulai dari peraturan pasar modal sampai perusahaan yang dibekukan izin usahanya. 

2. Pengalaman MI

Ketahui berapa lama perusahaan MI sudah berdiri dan apa saja kegiatan bisnisnya. Biasanya informasi ini tercantum dalam satu bab tersendiri dalam prospektus reksa dana, termasuk informasi tentang kapan perusahaan didirikan, perubahan-perubahan terhadap anggaran dasarnya, susunan direksi dan komisaris, pengalaman MI, serta pihak yang terafiliasi dengan MI (kalau ada).

3. Dukungan grup perusahaan

Hal ini perlu untuk meyakinkan calon investor bahwa MI yang akan dipilihnya akan berumur panjang. Semakin besar dukungan dan komitmen grupnya semakin baik, prospek kelangsungan bisnis sang MI.

4. Kinerja historis MI

Walaupun kinerja masa lampau tidak bisa dijadikan patokan untuk meramalkan kinerja masa mendatang, calon investor bisa melihat kemampuan MI mengelola reksa dana dari kinerja historis reksa dana yang dikelolanya. Selain mampu membentuk portofolio yang terdiversifikasi dengan baik dan memberikan imbal hasil yang mengalahkan imbal hasil tolok ukurnya, manajer investasi yang handal juga mampu menjaga konsistensi kinerjanya. Dalam melihat kinerja historis, calon investor tidak boleh hanya terpaku pada imbal hasil; ia juga perlu mempertimbangkan risiko. Untuk mengukur risiko ini calon investor bisa memperhatikan fluktuasi keuntungan reksa dana: jika fluktuasinya tinggi, artinya risikonya juga tinggi. Sebaliknya jika fluktuasinya kecil, atau kinerjanya cenderung stabil, berarti risikonya rendah.

5. Gaya investasi MI

Ketika memilih MI, tidak sedikit calon investor yang cenderung mencari MI yang bisa memberikan imbal hasil tertinggi. Padahal, investor juga kudu mengenal gaya investasi MI tersebut karena siapa tahu, imbal hasil yang tinggi itu diperoleh dengan gaya investasi yang terlalu berani alias berisiko tinggi. Dengan mengetahui gaya investasi MI, calon investor kemudian dapat menimbang apakah gaya tersebut sesuai dengan tujuan investasi serta profil resiko pribadinya.

Gaya investasi MI dapat dipelajari dari isi portofolio yang dilaporkan dalam laporan keuangan reksa dana yang tercantum dalam prospektus. Yang patut diperhatikan adalah jenis obligasi atau saham yang ada di dalam portofolionya. Obligasi korporasi, misalnya, memang memiliki potensi imbal hasil yang lebih tinggi dari obligasi pemerintah (SUN) karena bunga kupon yang ditawarkan memang lebih tinggi. Tapi di lain sisi obligasi korporasi biasanya lebih tidak likuid dibandingkan dengan SUN, sehingga jika MI banyak memiliki obligasi korporasi dalam portofolio reksa dananya maka jika terjadi penjualan kembali (redemption) besar-besaran, tidak tertutup kemungkinan MI akan mengalami kesulitan menjual obligasi korporasi tersebut sehingga berujung dengan kegagalan MI melunasi redemption. Lebih lanjut, calon investor juga bisa melihat apakah lebih banyak obligasi atau saham perusahaan-perusahaan kecil namun tingkat pertumbuhannya cukup besar, atau lebih banyak saham atau obligasi perusahaan mapan dengan pertumbuhan lebih pelan. Calon investor juga bisa melihat apakah portofolionya terdiri dari saham atau obligasi perusahaan di sektor tertentu atau merata di semua sektor.

6. Dana kelolaan MI

Ibarat mesin produksi yang bisa menghasilkan barang lebih murah bila jumlah yang diproduksi bertambah banyak, dalam bisnis jasa pengelolaan aset juga berlaku norma economies of scale: makin besar aset yang dikelola manajer investasi, makin efisien pengelolaan dananya dan potensi imbal hasilnya juga makin baik. Mengapa demikian? Karena makin besar aset, makin kuat posisi tawar MI untuk mendapatkan harga lebih baik saat bertransaksi, menekan biaya transaksi (contohnya komisi pialang biasanya makin kecil seiring dengan makin besarnya nilai transaksi) khususnya untuk instrumen pasar uang dan pendapatan tetap.

7. Nasabah yang sudah berinvestasi di MI

Bisnis MI adalah bisnis kepercayaan, sehingga jumlah nasabah bisa menjadi indikator tingkat kepercayaan terhadap sang MI. Selain mengelola reksa dana, banyak MI yang juga mengelola portofolio nasabah secara terpisah (discretionary fund). Nasabah discretionary fund umumnya merupakan nasabah besar seperti dana pensiun atau perusahaan asuransi – institusi apa saja yang telah memberikan mandat kepada MI untuk mengelola dananya juga bisa mengindikasikan reputasi MI.

8. Struktur biaya

Dalam prospektus reksa dana ada bab khusus yang memuat uraian tentang alokasi biaya dan imbalan jasa reksa dana. Alokasi biaya ini biasanya terbagi dalam 3 kelompok:
a. Biaya yang menjadi beban reksa dana
b. Biaya yang menjadi beban MI
c. Biaya yang menjadi beban pemegang unit penyertaan

Dalam hal ini yang relevan untuk dipertimbangkan adalah biaya yang menjadi beban reksa dana karena komponen biaya ini mempengaruhi potensi imbal hasil reksa dana.

9. Kualitas layanan MI

Bagi MI yang melayani investor ritel secara langsung, calon investor juga bisa mencari informasi mengenai kualitas layanan sang MI, misalnya bagaimana MI merespon kebutuhan investor, seberapa cepat dan akurat layanan MI, dan lain sebagainya.

 

Comments

AUM=NAB??

nandito's picture

mau bertanya,,,

saya masih awam soal reksa dana, dan baru mulai belajar. ada hal
yang ingin saya tanyakan, ketika membaca artikel di majalah investor
saya menemukan bahwa istilah asset under manajemen/dana kelolaan itu
berbeda dengan NAB/NAV. ketika melihat sebuah data reksadana dari
sebuah situs,, nilai NAB sama besar dengan nilai AUM, sebenarnya apa
sih yang dimaksud dengan Asset Under manajemen/dana kelolaan sebuah
reksadana, dan apakah sama pengertiannya dengan NAB? 

+2=^.^

Pentingnya dana kelolaan MI

Dimas Yoga's picture

Mbak, saya mau tanya, seandainya ada MI yang memiliki dana kelolaan kecil, tetapi mimiliki kinerja reksa dana yang mengkilap itu apakah boleh kita "lirik" mbak?

Belakangan saya melihat di infovesta, khususnya untuk reksa dana campuran, kinerja Mahanusa Dana Kapital, ko bisa positif disaat yang lain banyak negatif ya? Apakah MI-nya memang patut "dicurigai" atau memang MI-nya tergolong Mi yang "bermain cantik" seperti halnya Makinta pada tahun 2006-2007 yang lalu?

Mohon share dari mbak dan para suhu portal reksadana sekalian, terima kasih.

dana kelolaan MI

Anonymous's picture

Hallo Mas Dimas,

Rasanya tidak ada aturan baku dalam memilih MI karena setiap investor punya preferensi masing-masing. MI yang dana kelolaannya kecil tapi kinerjanya bagus tentunya berkesempatan meraih lebih banyak investor. Meskipun memang pada dasarnya makin besar dana kelolaan MI berarti makin banyak juga investornya sehingga mencerminkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap MI tersebut. After all, bisnis MI adalah bisnis kepercayaan.

Dalam menilai kinerja reksa dana, mungkin yang perlu diperhatikan adalah selain tingkat imbal hasil yang tinggi, investor juga perlu memperhatikan konsisten sang MI dalam mencapai kinerja tersebut. Kalau memang konsisten menghasilkan imbal hasil yang mengalahkan imbal hasil tolok ukurnya dari tahun-tahun, berarti MI tsb memang mumpuni. Sebaliknya, ada juga MI debutan yang kinerjanya gemilang hanya pada saat pasar sedang bullish, misalnya. Saya tidak akan menyebutkan MI mana yang debutan dan mana yang mumpuni dalam hal ini karena menurut saya tidak etis.

mencari data

nandito's picture

berbicara soal dana kelolaan,, saya sedang mencari data mengenai dana kelolaan reksa dana saham,, kemana saya harus mencarinya ya??? bisa membantu saya.. thank 

 

+2=^.^

data ttg dana kelolaan

mnwiria's picture

Selama ini pusat data reksa dana di situs Bapepam-LK (www.bapepam.go.id) menyediakan data ttg dana kelolaan para MI, namun sayangnya akhir2 ini pusat data tsb berhenti beroperasi. Mungkin bisa dicoba www.infovesta.com.

thank

nandito's picture

thank buat rujukannya,,

setelah saya tanya ke infovesta,, ternyata mereka menyediakan data yang saya cari.. 

sekali lagi thanks

+2=^.^

Saran @mnwiria

barkah's picture

Sis, saya saran agar MI di tempat sis bekerja (*O*T*S ) agar menjual RD nya di Mandiri, cos sebagian orang membeli RD melalui agen penjual di Mandiri (termasuk saya sendiri).

Kalo saya ingin membeli langsung ke MI nya rada males karena lebih jauh dari pada ke Mandiri.

Bank Mandiri

mnwiria's picture

Hallo Mas Barkah,

Sejak bulan Agustus kamu sudah bisa beli melalui Bank Mandiri koq :) Kamu ga bisa beli langsung ke MI-nya karena memang MI-nya tidak melayani investor ritel...

Salam,
Mel :)

Bisakah ?

Elisabeth's picture

Apakah dimungkinkan membeli RD yang sama dgn MI yg sama tetapi dari agen penjual yang berbeda ? (beda bank)

Beli RD beda bank

rdlshell's picture

Bisa banget... saya beli fortis ekuitas di BII, beli lagi di Commonwealth.... boleh aja tuh, gk masalah

Rina DL

Mohon Maaf Lahir Bathin

membeli RD yang sama melalui agen penjual lain

mnwiria's picture

Boleh-boleh saja. Tapi karena biasanya agen penjual reksa dana adalah bank dan investor harus menjadi nasabah bank tsb sebelum bertransaksi reksa dana, maka mungkin jadi kurang praktis ya kalau membeli satu reksa dana di lebih dari 1 agen penjual.

Kalau memang investor sudah menjadi nasabah di lebih dari 1 bank yg kebetulan semuanya adalah agen penjual suatu reksa dana, mungkin yang bisa dipertimbangkan adalah biaya pembelian (subscription fee) dan biaya penjualan kembali (redemption fee). Mohon diingat bahwa kedua biaya ini adalah sumber penghasilan agen penjual dan seiring dengan makin ketatnya persaingan antar bank, tidak jarang bank-bank juga bersaing dalam hal kedua biaya ini. Jadi kalau investor mau shopping around, boleh-boleh saja.

Mel :)

perbedaan antar agen penjual

mnwiria's picture

Ya, selain perbedaan subscription dan redemption fee, ada juga perbedaan dalam hal nilai investasi minimum dan nilai top-up minimum.Hal ini disebabkan karena setiap agen penjual memiliki target/pangsa pasar yang mungkin berbeda satu sama lain. Bisa juga banknya sebenarnya bukan bergerak di pangsa high net worth clients tapi karena hanya divisi priority bankingnya yang jualan reksa dana maka nilai investasi dan top-upnya minimum tapi subscription dan redemption fee-nya mungkin rendah karena untuk nasabah prioritas.

Jadi ada banyak faktor yang menentukan pemilihan agen penjual reksa dana. Tapi itu semua kemudian berpulang ke investor, mau pilih agen penjual yang mana.

Mel :)

iya juga sih

rdlshell's picture

Sis Mel,

 iya juga sih.... tp wkt saya beli di BII, top up nya min 10 juta, sempet topup, tp kan berat kalo tiap bulan top upnya 10 jtSsaya buka lagi di  CW, yang bisa top up min 500rb.

Rina DL

Mohon Maaf Lahir Bathin

sis n bro.... iklan forex

ma_kara's picture

sis n bro....

iklan forex jayayg ada di portalreksadana itu jenis investasi apa ya?

mohon informasi nya...... ada iklannya di portal tp gak tau...... 

jd mau tau deh.....

thanx ya sis nbro sekalian

 

than

koq gak dicoba cara

ito's picture

koq gak dicoba cara penjualan reksadana via ATM ya? kan simpel dan praktis banget...

bro barkah, variasi produk reksadana di Mandiri makin banyak lo..bahkan RD Index sudah dijual juga, lumayan buat alternatif investasi

Sudah ada

barkah's picture

OPh ternyata sekarang sudah tersedia ya. Saya kira belom ada soalnya terakhir kali setengah tahun yang lalu belum liat. Terakhir kali ke sana cuman mau top up doang jadinya belom sempet liat daftar RD yang tersedia terbaru.

Thanks to Bro ito dan Sis Mel atas informasinya.  

jual RD via ATM

mnwiria's picture

Penjualan reksa dana via ATM memang simpel dan praktis, tapi bisa atau tidaknya tergantung dari bank yang bertindak selaku agen penjual, bukan dari MI, karena prosesnya harus menggunakan sistem bank tsb. Kalau tidak salah bank Commonwealth menyediakan fasilitas auto debit setiap bulannya sehingga nasabah bisa melakukan Dollar Cost Averaging, misalnya pembelian reksa dana X sebesar Rp. 1 juta tiap bulannya. Tapi masalahnya fasilitas ini hanya bisa untuk 1 reksa dana saja; kalau nasabah punya lebih dari 1 reksa dana maka tidak bisa menggunakan fasilitas ini karena sistemnya belum bisa menangani. Informasi ini saya dengar dari seorang teman yang kebetulan berinvestasi di reksa dana melalui Bank Commonwealth, jadi saya tidak tahu persis bagaimana mekanismenya. Kalau ada yang berminat, coba tanyakan dengan pihak Bank Commonwealth untuk keterangan lebih lanjut. Mel :)

RD lewat ATM

Passion4U's picture

Sekedar informasi dari insider, di Bank Mandiri memang rencananya akan menjual RD lewat internet banking dan ATM tahun depan (rencananya ya tapi bisa aja berubah hehehe), sebenarnya rencana jualan lewat internet dan ATM itu mau direalisasikan tahun 2008 kemaren cuma ternyata kemaren mereka lebih memandang lebih penting feature RD installment dulu (pembelian RD ostosmastis setiap bulan) .... sssstttt tapi jangan bilang siapa-siapa ya hehehe ... 

Seorang Newbie - P a s s i o n 4 U

Don't walk in front of me, I may not follow. Don't walk behind me, I may not lead. Walk beside me and be my friend.

Bisa DCA

barkah's picture

Wah berarti bisa di auotodebet setiap bulannya kayak bayar tagihan telepon. Makasih ya bro Passion4U atas infonynya. Jadinya saya bisa DCA tanpa mengeluarkan ongkos transport ke sana untuk top up RD. Btw ada topup minimumnya gak?

installment (RD subscribe ostosmastis)

Passion4U's picture

Bro ...

info ini masih fresh from the oven ... ane tahunya dari temen ane yang kerja di sana ... installment ini sebenarnya udah masuk sistem sejak agustus lalu ... tapi tidak dilaunch ke public karena mo dicoba internal karyawan Bank Mandiri dulu ... nach sekarang waktunya dirasa sudah cukup so bakalan di launch ke public ... cuma berhubung cabang Bank Mandiri 950 cabang lebih ... agak butuh waktu sosialisasi ke cabang untuk melakukan hal ini ...

So kalo bro mo coba nanya datang aja ke cabang Bank Mandiri sekitar pertengahan bulan Desember ... kalo customer servicenya masih bengong denger permintaan bro ... artinya dia belon kena sosialisasi, walaupun di sistemnya udah ada ... hehehe ... dateng aja bulan januari nanti mudah-mudahan aja udah kelar ...

Mengenai top up minimum ... ane belon ada informasi soalnya policynya lagi disusun tuch ... wah commonwealth mesti hati-hati nich sekarang dengan Bank Mandiri ...

Seorang Newbie - P a s s i o n 4 U

Don't walk in front of me, I may not follow. Don't walk behind me, I may not lead. Walk beside me and be my friend.

laporan portfolio reksa dana

autogebet's picture

sis, seberapa akurat data isi portoflio yang ada di bapepam? seberapa sering frekuensi update nya? saya menerima komplain kl informasi portfolio di portalreksadana tidak update, padahal datanya ya diambil dari bapepam. atau, bisakah MI secara periodik mengirim data ke portalrd? hehe :D

laporan ke Bapepam

mnwiria's picture

Bank kustodian setiap hari menyampaikan laporan ke Bapepam mengenai reksa dana, termasuk mengenai subscription, redemption, sampai isi portofolio. Batas waktu penyampaian laporannya adalah T+1 pukul 9 pagi, di mana keterlambatan akan menyebabkan bank kustodian mendapat teguran dari Bapepam.

Namun berhubung bank kustodian menyampaikan data tersebut dengan menginput ke sistem Bapepam, BUKAN langsung ke situs e-monitoring reksa dana Bapepam, maka ada kemungkinan data yang diinput tsb tidak langsung dipublikasikan. Bisa saja Bapepam kemudian meneliti dulu datanya sebelum mempublikasikannya, sehingga terjadi delay dalam publikasi.

Mengenai akurat atau tidaknya isi portofolio, bagaimana orang yang komplain itu mengklaim bahwa apa yang dimuat di situs Bapepam itu tidak akurat? Apakah memang ia tahu data yang akurat? Tentunya seseorang baru bisa klaim bahwa data itu tidak akurat kalau memang ia tahu atau punya akses ke data yang sebenarnya, bukan? ;p

pernah sy bandingkan

ito's picture

pernah sy bandingkan portfolio dari portal ini (salute to bro gebet : inovatif sekali) dgn fund fact sheet bulanan... koq ada beda cukup jauh.

Pdhl, menurut info dari sis Mel MI cenderung buy and hold. Jdnya koq gak match. Lumayan lo sis Mel, info ttg portfolio spt ini krn kita bisa perkirakan resiko dan gaya MI-nya. Cuma memang hampir sama semua shg kinerja RDS di Indo juga relatif sama : kalo indeks bull naik semua kalo bear jeblok semua :)D

info tidak match

mnwiria's picture

Hallo Mas Ito,

Data portofolio yang ada di fund fact sheet bulanan itu hanya untuk 5 penempatan terbesar (top 5 holding). Dalam kondisi pasar yang sangat bergejolak saat ini ada kemungkinan perubahan dalam portofolio juga lebih dinamis sehingga apa yang tercantum di fund fact sheet mungkin tidak selalu klop dengan apa yang tercantum di situs Bapepam, apalagi mengingat fund fact sheet cuma dirilis sebulan sekali dan biasanya baru keluar 1-2 minggu setelah bulan yang bersangkutan.

Isi portofolio mungkin bisa mirip antara satu MI dengan yang lain karena bobot suatu saham di portofolio biasanya ditentukan relatif terhadap bobot saham tersebut di pasar. Saham-saham berkapitalisasi pasar besar seperti Telkom, misalnya, biasanya mau tidak mau harus dimasukkan ke dalam portofolio karena kalau tidak maka kinerja portofolio bisa tertinggal jauh dari IHSG sebagai tolok ukurnya. Jadi pada dasarnya, dalam pembentukan portofolio fund manager akan berusaha membuat replika dari IHSG, namun dengan pembobotan yang sedikit berbeda - ada saham yang di-overweight, underweight atau netral. Selain itu, tidak semua saham di IHSG dimasukkan ke dalam portofolio, tapi hanya dipilih sebagian saja yang fundamentalnya bagus dan likuid.

Perlu disikiapi juga bahwa bursa saham Indonesia boleh dibilang masih belum berkembang sepesat negara lain, terutama jika dilihat dari jumlah emiten dan jenis saham yang tersedia. Saat ini saja jumlah emiten di BEI baru sekitar 400, dan kalau dilihat dari kapitalisasi pasarnya, BEI didominasi oleh emiten-emiten yang bergerak di sektor komoditas (tambang dan perkebunan). Malah kalau dilihat lebih lanjut, sektor komoditas ini mencakup 30% total kapitalisasi pasar di BEI - jadi tidaklah mengejutkan jika penurunan harga-harga komoditas yang tajam akhir-akhir ini membuat IHSG terpuruk dalam.

Nah, dari 400 saham tsb tidak semuanya bisa dimasukkan ke dalam portofolio. Untuk menyusun portofolio inti, biasanya MI kemudian menyaring lagi dengan kriteria seperti memiliki kapitalisasi pasar minimal Rp. xx milyar, likuid, memiliki fundamental yang bagus. Nah setelah penyaringan biasanya dalam portofolio hanya terdapat sekitar 30-40 saham saja. Mengapa sedemikian sedikit? Karena dari 400 saham yang ada di BEI, hanya ada sedikit yang likuid dan berkapitalisasi cukup besar. Mengapa harus likuid dan berkapitalisasi cukup besar? Karena reksa dana harus bisa menerima subscription dan redemption setiap hari. Kalau kapitalisasinya terlalu kecil, maka MI akan sulit melakukan pembelian, terutama dalam jumlah besar karena harga. Sedangkan kalau sahamnya tidak likuid, maka ada kemungkinan jika terjadi redemption MI tidak bisa melunasi karena tidak sanggup menjual saham di pasar.

PORTFOLIO DI BUMI

ma_kara's picture

hallo sis mel......  n jg sis/bro yg lain

di media cetak SINDO dikabarkan bahwa reksadana siap melepas saham bumi...... apabila kepemilikan bumi atas kpc dilepas.... padahal banyak mi yg portfolio nya ada di bumi....... menurut sis mel.... apa dampaknya kl memang ini dilakukan..... yg pasti akan berefek domino....

 mohon penjelasannya sis mel.... n jg sis/bro yg lain......

 

thanx.. salam

saham Bumi

mnwiria's picture

Saya tidak berlangganan koran Sindo sementara di koran lain (Bisnis Indonesia & Kompas) saya tidak melihat berita yang sama sehingga saya tidak bisa berkomentar.

Memang saat ini boleh dikatakan semua RDS memiliki saham Bumi Resources di dalam portofolionya. Mengapa demikian? Pada dasarnya suatu saham diikutsertakan dalam portofolio jika (1) kapitalisasi pasarnya besar, (2) likuid, (3) fundamental perusahaannya bagus dan (4) prospek industrinya untuk beberapa tahun mendatang baik. Saham Bumi memenuhi semua kriteria tsb di atas, dan karena tahun lalu sempat menjadi saham berkapitalisasi terbesar di BEI, ditambah dengan kenyataan bahwa sektor komoditas mencakup sekitar 30% total kapitalisasi BEI, maka saham Bumi menjadi salah satu saham yang menggerakkan pasar. Karena menjadi penentu pergerakan pasar dan tolok ukur RDS adalah IHSG maka mau tidak mau saham Bumi harus masuk dalam portofolio.

Dalam kondisi saat ini, sektor komoditas (CPO dan batubara) memang mengalami penurunan, namun ini tidak berarti bahwa MI harus meninggalkan sektor ini sepenuhnya karena kalau nanti kondisi berbalik maka akan sulit bagi MI untuk mengejar. Yang dilakukan adalah mengurangi bobot saham-saham komoditas di portofolio (underweight) relatif terhadap bobot saham tsb di pasar. Jadi kalau bobot saham di pasar 5% maka di portofolio mungkin cuma 3-4% atau bahkan cuma 2% tergantung seberapa bearish pandangan MI terhadap saham tsb.

Untuk kasus Bumi, sebenarnya fundamental perusahaannya baik dan prospek bisnisnya juga masih menjanjikan. Namun karena Bakrie & Brothers (BNBR) selaku holding Bumi saat ini sedang dirundung masalah terkait utang dan repo, maka sentimen terhadap BNBR menjadi negatif, dan pada gilirannya ikut menimpa Bumi. Jadi sebenarnya ini masalah corporate governance yang sayangnya menimbulkan sentimen negatif. Nah, di pasar saham, sentimen investor menentukan volatilitas pasar sementara pertumbuhan ekonomi menentukan trend-nya.

Semoga masalah yang menimpa Bumi bisa segera diselesaikan sehingga tidak merugikan investor.

Mel :)

Mengenai bobot saham

dunkz's picture

Sis Mel. Saya tertarik dengan pembobotan saham dalam portfolio RD. Jadi dalam kondisi default (belum dimodif),  bobot saham dalam portfolio RD mirip dg indeks?

Satu lagi. Sebenarnya seberapa sering turnover dari portfolio RD?

Jika kondisi market sangat buruk apa yang biasa dilakukan oleh MI?Mengingat umumnya prospektus RDS mengharuskan minimal 80% portfolionya dalam bentuk saham.

 

"invest your time before invest your money"

visit my blog at http://parahita.wordpress.com

dan http://warung-reksadana.blogspot.com

pembobotan saham

Anonymous's picture

Mas Dunkz,

Dalam posisi netral, bobot saham di portofolio akan mirip dengan bobot saham itu di pasar. Berhubung MI dibayar untuk mengalahkan tolok ukur, maka untuk reksa dana saham jika memang tolok ukurnya IHSG maka MI harus berupaya agar kinerja portofolio RDS-nya lebih tinggi dari kinerja IHSG. Bagaimana caranya? Dengan memilih saham-saham yang likuid, berfundamental baik dan memiliki katalis yang bisa memberikan nilai tambah. Jika saham-saham ini sudah terpilih untuk diikutsertakan dalam portofolio, tinggal mengatur bobotnya, apakah mau netral, underweight atau overweight.

Seberapa sering turnover portofolio RDS? Pada dasarnya MI lebih memilih melakukan buy and hold karena memang berpatokan pada analisa fundamental (bukan teknikal). Selain itu jika terlalu sering trading tentunya juga menggerus kinerja reksa dana karena berat di ongkos transaksi.

Dalam mengelola reksa dana, biasanya MI tidak keluar sama sekali dari satu sektor, karena ada kemungkinan keadaan berbalik. Kalaupun kinerja suatu sektor sudah tidak secemerlang dulu, maka yang dilakukan adalah mengurangi bobotnya di portofolio, tidak dengan keluar sama sekali, sebab kalau keluar maka begitu keadaan berbalik maka MI akan kesulitan mengejar.

Memang berdasarkan ketentuan Bapepam-LK, minimal 80% portofolionya harus dalam bentuk saham. Tapi sebenarnya, posisi ini berarti sebenarnya sudah underweight lho karena tolok ukurnya 100% IHSG dan rasanya tidak pernah terjadi MI menaruh 100% portofolio RDS-nya di saham.

Menjawab pertanyaan Mas Dunkz tentang apa yang dilakukan MI jika kondisi pasar sangat buruk, tentunya jika itu RDS maka porsi saham akan berada di level 80% (karena memang minimal harus 80% di saham). Selain itu MI tentunya akan melakukan rotasi sektor dan saham, yaitu mengalihkan investasi ke sektor atau saham yang defensif - biasanya ini berarti sektor/saham yang likuid dan relatif memiliki ketahanan lebih tinggi terhadap krisis.

insight ...

Passion4U's picture

Sis mel ...

terima kasih atas insightnya ... sebenarnya saya sudah menduga juga pasti seperti itu jawabannya, mengingat dalam kondisi bursa longsor, pasti seluruh MI yang punya rd saham pasti longsor juga (yang beda cuma tingkat longsornya aja) ...

So memang menjadi sangat beralasan bogle memandang yang kita harus lakukan adalah investasi di rd index (mengingat toch yang dilakukan MI RD saham juga sama dengan rd index, cuma bobotnya aja yang berbeda - ada yang overweight ada yang underweight ... untuk mengalahkan kinerja index) ...

Semakin juga kuat pendirian saya bahwa untuk selamat dari mekanisme ini adalah dengan melakukan sedikit active investing (sedikit lho bukan banyak ... walaupun indikatornya harus medium term bukan short term) karena tidak ada satupun MI yang akan lolos dari kejatuhan dengan mekanisme yang sis Mel katakan ...

anyway, saya cuma berbagi insight saya, ane sadar kadang orang masih alergi dengan active investment style ane dengan berbagai argumen ... (ada yang bilang style ini lebih cocok di saham, RD investment long term , dsb) ... tapi ane yakin yang harus kita junjung tinggi adalah tujuan dari financial planning kita, selama tujuan financial kita tercapai apapun sarananya dan toolsnya menjadi tidak relevan lagi ... Toch banyak jalan menuju roma khan ...

Salam hangat saya buat sis mel yang baik hati dan bro dunkz ... ane beneran kangen ketemu darat lagi ... melepaskan diri dari rutinitas kantor yang lagi gelo abis ini ...

Seorang Newbie - P a s s i o n 4 U

Don't walk in front of me, I may not follow. Don't walk behind me, I may not lead. Walk beside me and be my friend.

banyak jalan ke Roma

mnwiria's picture

Ya benar Mas, memang ada banyak jalan menuju Roma, tinggal pilih sendiri mana yang pas.kalau memang punya waktu dan kemampuan untuk melakukan active investing ya silakan. Sebaliknya kalau tidak, ya percayakan saja pada MI untuk mengelola dana. Ujung2nya ya benefit-cost analysis; apakah biaya atau usaha yang dikeluarkan sebanding dengan potensi imbal hasil? Inilah yang perlu dipertimbangkan investor dalam memilih strategi investasinya.

Mel :)

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.