Dibalik Kisah Penutupan Polis Unit Link Berusia 9 Tahun

autogebet's picture

Awal mula kisah kenapa polis unit link saya tutup adalah karena "kecele". Saat anak masuk TK, ternyata usia polis belum cukup untuk bisa dicairkan. Berselang beberapa tahun menjelang anak masuk SD, ternyata dana yang ada tidak bisa dicairkan semua karena harus menyisakan saldo minimal agar proteksi tetap berjalan. "kecele" lainnya, bahkan total dana yang berhasil dicairkan (hingga ditutup) jumlahnya lebih kecil ketimbang total setoran premi.

Usia polis unit link yang sudah mencapai 9 tahun, rasanya sudah cukup untuk menguji "janji" yang tertuang dalam ilustrasi polis. Dulu saya memulai polis unit link pada tahun 2005, saat itu saya masih awam (PortalReksadana baru lahir tahun 2007), keinginan saya tentu sesuai produk yang dipilih yaitu asuransi pendidikan anak. Harapan utamanya tentu bisa tersedia dana yang dapat ditarik sewaktu2 di masa depan, ada fitur proteksi okelah tapi bukan yang utama. Mayoritas kita memilih unit link biasanya untuk "menabung", so kita bahas dulu ttg menabung nya, proteksinya menyusul yaa.

Opportunity Loss di Unit Link

Nah selain karena "kecele", faktor lainnya adalah "opportunity loss". 9 tahun saya sudah "nabung" di unit link, apakah unit link pilihan yang tepat, atau sebenarnya ada pilihan lain yang lebih baik? Kebetulan saya punya data kinerja reksadana yang sudah berusia hingga 10 tahun, mari kita coba lihat bagaimana seandainya semua setoran premi diinvestasikan full ke reksadana (ini full untuk nabung dulu ya, kita kesampingkan dulu fitur proteksinya). Bagi yang ingin langsung to-the-point, bisa langsung lompat ke akhir subbab ini hehe..

Berdasarkan data yang saya miliki, tidak banyak pilihan reksadana saham (RDS) yang tersedia saat 10 tahun yang lalu dan masih aktif hingga sekarang, hanya ada 15 RDS. Semua RDS itu saya hitung kinerja annualized dalam periode 10 tahun (disetahunkan, dengan rumus CAGR), hasilnya adalah sebagai berikut:


  • Portfolio Panin Dana Maksima 28,67%
  • BNP Paribas Ekuitas 21,68%
  • Trimegah - Trim Kapital 21,66%
  • BNP Paribas Pesona 21,41%
  • Schroder Dana Istimewa 21,00%
  • Pratama Ekuitas 20,88%
  • Batavia Dana Saham 20,73%
  • Schroder Dana Prestasi 20,49%
  • Schroder Dana Prestasi Plus 19,49%
  • Manulife Dana Saham 19,44%
  • Rencana Cerdas 19,28%
  • Bahana TCW Dana Prima 17,33%
  • Danareksa Mawar 17,14%
  • AXA Citradinamis 15,38%
  • BNI Berkembang 5,88%

PDM adalah RDS yang paling bersinar untuk periode 10 tahun, setara 28% per tahun. Rata2 RDS berkinerja setara 20% per tahun. Please note bahwa dalam periode satu dekade ini dunia pasar modal Indonesia sudah kena guncangan sekian kali krisis, seperti tahun 2005 (inflasi tinggi, redemption rush), 2008 (Subprime Mortgage) dan 2012 (krisis Eropa). Dari olahan data ini, saya pilih saja salah satu RDS yang kinerjanya rata-rata saja (karena 10 tahun lalu saya tidak mungkin bisa menebak mana RDS yang ciamik di masa depan), saya akan gunakan data riil untuk menghitung berapa total akumulasi dana yang bisa saya cairkan dalam periode waktu yang sama seperti polis unit link.

Perhitungan saya buat dengan setoran rutin Rp 250.000 tiap awal bulan, dimulai pada awal Oktober 2005, kemudian saya cairkan pada 1 Desember 2014. Jreeng! Dari total setoran Rp 27,5jt seharusnya dapat saya cairkan Rp 62jt. Bayangkan kesempatan yang hilang selama 9 tahun ini, seharusnya saya bisa dapat surplus 34jt. Dengan unit link malah saya gagal "balik modal".

Pisahkan Asuransi dengan Investasi

Nah sekarang kita bahas fitur proteksinya. Memang tidak apple-to-apple jika kita bandingkan reksadana dengan unit link, karena sudah sejak kelahiran unit link selalu ada unsur proteksi/asuransi. Mari kita geser ke konsep asuransi/proteksi murni (tidak ada unsur investasi), sehingga konsepnya adalah "hangus" dimana seluruh setoran premi habis sebagai biaya, tidak ada manfaat uang yang bisa kita dapat selain Uang Pertanggungan (UP). Dalam asuransi jiwa, UP hanya cair jika tertanggung meninggal. Nah, agar kita dapat bandingkan apple-to-apple, maka hasil investasi reksa dana harus kita kurangi dengan seluruh biaya premi.

Saya ilustrasikan dulu seperti apa polis unit link yang sudah saya tutup. UP nya Rp 40jt dengan premi Rp 2,9jt per tahun. UP ini baru bs cair full jika usia polis > 5 tahun. Eniwei, sesudah kenal produk asuransi jiwa murni, saya dapat better deal: UP 750jt dengan premi Rp 3jt per tahun. Bagi yang sehat tidak diabetes, preminya lebih murah. Jika saya mulai ambil asuransi ini 10 tahun lalu (saat saya masih muda belia), preminya juga lebih murah lagi. Nyesel kan mulainya telat..

Nah, total biaya "hangus" yang saya keluarkan dengan asuransi jiwa murni ini untuk 9 tahun setara Rp 27jt. Surplus investasi reksadana tadi (34jt) sesudah dikurangi biaya asuransi (27jt) masih memberikan surplus 7jt. Artinya, total tabungan saya "balik modal", plus masih ada surplus, plus terproteksi dengan UP berpuluh kali lipat. Ini jauh lebih baik ketimbang gagal balik modal di unit link.

Jika kita akan memilih jalan ini (memisahkan asuransi dengan tabungan/investasi), ini menjadikan penting untuk kita memilih produk reksadana yang bersinar. Seandainya 10 tahun lalu saya berhasil konsisten memilih RDS dg kinerja terbaik (setara 28% per tahun), maka surplus akhir (sesudah dikurangi biaya asuransi) bisa mencapai Rp 42jt.

Semoga bermanfaat dan Tetap Semangat!

Comments

Ditawari unit link lagi...

autogebet's picture

Datang ke bank, di akhir pelayanan mbak CS nya menawarkan "Bapak sudah punya asuransi pendidikan?". Teringat kalau dulu pernah posting khusus tentang unit link yang ditutup, kebetulan produk yang dimention mbak nya sama seperti yang saya ulas disini (tidak sebut merek yaa).. langsung saya berikan URL artikel ini untuk mbak nya, sekaligus saya share kembali disini untuk menyegarkan ingatan kita bersama :)

Semoga bermanfaat.

Bagaimana jika sudah terlanjur ambil UL???

awankecil's picture

saya sudah ambil UL asuransi jiwa 5 tahun yg lalu. saat ini 80-90% premi sdh masuk investasi (berubah2 tanpa pola yg jelas). sudah saya tanyakan dasar/sistem alokasi premi, namun jawaban tidak memuaskan seperti ada yg disembunyikan. namun kesimpulannya masa sulit sdh terlewati sehingga saat ini tinggal menikmati proteksi. namun hingga saat ini nilai investasi belum mencapai jumlah premi yg saya bayarkan (BEP). saya merasa lebih baik premi saya masukkan reksadana saja.

Apa yg sebaiknya saya lakukan ?

1. menutup UL saat ini
2. menutup UL sesudah BEP nilai investasi
3. melanjutkan UL

terimakasih sebelumnya

Periode reksadana matriks nya mohon di konfirmasi/koreksi

samhudi's picture

Pak autogebet mohon untuk periode reksadana matriks-nya di koreksi soalnya itu periode-nya dah masuk januari padahal harusnya khan desember janauari-nya masih bulan berjalan (karena saya klik MI kemudian saya klik rd nya periode-nya januari, Suwun

@samhudi: done, fixed

autogebet's picture

bro samhudi, wah terima kasih infonya, tajam sekali amatannya. Baru saja sudah saya perbaiki, betul memang seharusnya masih Desember 2014 (sesuai data dari Bapepam).

Saya Punya UL dan RD

kryptone99's picture

Kalo saya punya UL juga berinvestasi di RDS, RDPU dan DPLK. Kenapa saya mau buka UL? karena untuk biaya-biaya yang ada (kecuali biaya pertanggungan) ditanggung oleh lembaga tempat saya bekerja. Jadi biaya akuisisi, biaya admin bulanan dan biaya top up ditanggung oleh lembaga sedangkan biaya pertanggungan (dasar dan ridernya) ditanggung oleh saya sendiri. Dengan cara seperti ini ibaratnya saya memberi asuransi konvensional. Kalo investasi RDS, RDPU dan DPLK murni tanggungan saya semuanya, tidak ada yang ditanggung lembaga. Saat ini UL saya sudah memasuki bulan ke-27. Total premi Rp 500.000 per bulan yang dipecah menjadi premi dasar Rp 250.000 dan premi top up Rp 250.000. Dengan kata lain perbandingan premi dasar dan premi top up adalah 50:50. Umumnya agen membuat perbandingan 70:30 atau bahkan 80:20 supaya komisinya besar. Tapi saya sengaja meminta agar agen membuatkan 50:50. Kalo dia tidak mau ya saya cari agen lain yang mau... hehehehehe... Kemudian perhitungan nilai investasi yang saya pahami seperti ini. Dari premi yang kita bayarkan akan dipecah menjadi premi dasar dan premi top up. Di tahun pertama 100% premi dasar hangus untuk biaya akuisi dan 95% dari premi top up masuk ke investasi. Berarti biaya akuisisi yang saya bayarkan tiap bulannya di tahun pertama adalah 100% kali Rp 250.000 = Rp 250.000 (hangus) sedangkan yang masuk ke investasi adalah 95% kali Rp 250.000 = Rp 237.500. Kalo setahun berarti pokok investasi saya adalah 12 kali Rp 237.500 = Rp 2.850.000. Sisanya hangus. Nah realita yang saya dapatkan di akhir bulan ke-12 adalah Rp 2,9 jutaan. Dengan kata lain saya cuma dapat return Rp 100ribuan aja selama setahun pertama itu. Tahun kedua biaya akuisi 60% dari premi dasar dan sisanya 40% (Rp 100.000) masuk ke investasi. Untuk premi top up tidak berubah. Yang masuk ke investasi tetap Rp 237.500. Jadi di tahun kedua premi yang masuk ke investasi adalah Rp 337.500 tiap bulannya. Sisanya hangus buat biaya akuisisi. Nah sekarang tahun ketiga, biaya akuisisi 15% sisanya 85% (Rp 212.500) buat investasi. Untuk premi top up tidak berubah. Yang masuk ke investasi tetap Rp 237.500. Jadi di tahun ketiga ini yang masuk ke investasi adalah Rp 450.000 tiap bulannya. Ini berlaku sampai nanti akhir tahun kelima. Mulai tahun ke-6 dst tidak biaya akuisi lagi. Jadi total dana saya yang kelak akan masuk investasi adalah Rp 487.500 tiap bulannya. Ini belum memperhitungkan biaya pertanggungan (yang memang tanggungan saya).

Unitlink: @ Complicated Product Bagi Kita Yg awam

I Gede Suarnaya's picture

Salam investasi bro skalian, gmn kbr bro Gebet?
Membaca curhatan (complain?) tentang unitlink ini sy jd teringat buku “Jng beli unitlink jika anda tidak paham” by Andreas Freddy Pieloor, seoran CFA wahid dan aktif di orgns broker ass Indo. Sudah lama bgt sy baca buku itu, dan kesimpulanya sy bersyukur tdk sempat membelinya. Kesimpulan sy itu diamini jg oleh seorang pemimpin bank bumn tempat domisili sy, yg mengatakan bahwa tidak mungkin kita akan mendapat manfaat yg optimal dr produk yg mencampur “manfaat proteksi” dan “manfaat investasi” dlm satu kemasan produk. Protek ya protek...invest ya invest…

Dlm buku tsb disebutkan kelemahan karakter sebagian besar masyarakat yg mudah terbujuk rayu, malas membaca polis yg seabrek abrek dan suka mengambil jalan pintas/instan utk meraih beberapa tujuan sekaligus.

Pertanyaanya, kenapa para agen ass lebih bersemangat jualan unitlink ketimbang asuransi murni? Kenapa asuransi murni semakin langka dan asuransi modifikasi begitu marak? Banyak website/buku yang sudah membahas pertanyaan tsb.

So…the best way to secure our family is…proteksi pencari nafkah dg asuransi jiwa murni tanpa embel2 apapun, yg memberi pertanggungan hitungan Milyar dg premi terjangkau bagi keluarga kita ( yg bnyk plus plusnya pasti UP nya sangat kecil krn sdh dikompens dg berbagai manfaat tanggung yg mungkin tdk kita perlukan)…dan berinvestasi di produk murni investasi yg kita pahami dan memberikan info dan biaya yg transparan dan terjangkau seperti misalnya……...reksadana.

Salam portal reksadana…

Mungkin masalahnya adalah kurangnya transparansi

Sandro10's picture

Umumnya para financial advisor selalu menyarankan untuk memisahkan antara asuransi dan investasi karena biaya investasi yang besar. Menurut saya masalahnya ialah adanya "biaya asuransi" yang dipotong dari porsi investasi kita, yang angkanya tidak disajikan saat menjelaskan produk kepada pelanggan. Biasanya di bagian ilustrasi, agen asuransi menyajikan ilustrasi angka investasi yang akan didapat setelah sekian tahun, ditambah "janji surgawi" bahwa setelah sekian tahun tidak perlu bayar premi lagi. Sebenarnya kita terus-menerus membayar sampai akhir hayat tiba, dalam bentuk "biaya asuransi" (ini di luar management fee dari unit link itu sendiri). Kalau kita hitung-hitung, biaya ini akan semakin meningkat seiring pertambahan usia kita.

Saya pernah menghitung sendiri ilustrasi yang diberikan kepada saya. Yang agak menakjubkan, setelah sekian puluh tahun ternyata saldo investasi saya berkurang bahkan sampai habis, padahal asumsinya investasi saya bertumbuh 10% per tahun (nah, kok bisa ya???). Biaya asuransi ini biasanya tidak dijelaskan kecuali kita bertanya kepada agen yang menawarkan.

Ada satu asuransi (berinisial M) yang menjelaskan hal ini secara gamblang pada ilustrasinya. Saya menghargai keterbukaan mereka walaupun akhirnya penawaran mereka jadi terasa kurang menarik (hehehe...). Sayangnya saat ini kebanyakan asuransi menyembunyikan hal ini. Agen-agen pun biasanya enggan menawarkan asuransi murni. Dulu saya pernah mencari asuransi kesehatan murni tapi katanya tidak ada produk semacam itu (saya tidak tahu apakah dia berbohong atau tidak tahu atau memang benar tidak ada). Apa boleh buat, demi proteksi lebih baik beli yang ada saja. Yang saya sesalkan, kenapa program BPJS tidak mulai dari dulu-dulu ya...hehehe.... Alangkah baiknya kalau perusahaan asuransi diwajibkan mencantumkan semua komponen biaya kepada calon pembeli.

thx

Xeal's picture

Ternyata si om "curhat"nya disini :) thx om atas sharingnya.
Kebetulan ane lagi window shopping asuransi. Hasilnya: agak susah cari yg term-life yah, om.
Ada bocoran ga om..siapa aj yg jual term-life ?
(setiap ane tanya via email/telp, bilangnye ada..pas ketemuan bawa proposal. Eh ternyata UL juga)

Bocoran Term Life

autogebet's picture

Hai bro Xeal, wah sudah lama sekali sejak kita terakhir meetup ya :)

Dulu saya window shopping dapetnya Manulife (ProActive) dan BNI Life (BLife Optima Protection). Secara premi kalau tidak salah lebih murah Manulife, tapi karena saya ditolak, akhirnya dapetnya ke BNI Life.

Produknya Manulife masih eksis, cuma produknya BNI sepertinya sudah tidak ada lagi, saya cek di web nya kok tidak ada, mungkin berganti menjadi "Protect Plus" ya.

Ini sharing info yaa.. pls note saya bukan agen asuransi :)
Monggo jika ada rekan lain yang punya info produk Term Life.

unit link vs pemisahan investasi & proteksi

Dhani Purnomo's picture

Bro(s) sekalian,
Kalau pengalaman saya begini: begitu mau punya anak (masih di perut 2 bln) browsing mengenai kebutuhan anak. Yg utama ternyata dana pendidikan, kesehatan. Jiwa tdk perlu krn anak bukan "pencari nafkah". Akhirnya saya pilih reksadana, sementara utk kesehatan sdh di-cover ktr.

Lalu saya mulai timbang2 unit link saya yg hampir berjalan 3thn. Akhirnya saya tutup (thn lalu). Dananya saya pindahin ke RD jg sbg "dana pensiun". Akhirnya saya ambil term life di Manulife (yup, saya browsing2 sendiri jg).

Saya pernah iseng itung2 ngawur. Ternyata coverage unit link itu dihitung berdasarkan nilai sekarang. Katakan kamar RS yg dicover 500rb/hari, jd klo sekarang dpt lah kls 2. Nah klo sakitnya 15thn lg, nilai 500rb dpt fasilitas puskesmas kali ya? hehehe...

Ke sininya saya melihat, produk unit link itu cocoknya utk orang2 sibuk yg tdk pny waktu memisahkan proteksi & investasi/ orang2 yg kurang paham mengenai fungsi dr masing2 itu.

Begitu sih cerita saya. And i have to thanks again to PortalReksadana, krn sangat membantu dlm pemilihan RD. Semangat yes Bro Autogebet utk "memelekkan investasi"...

Salam hormat,
Dhani

ul vs termlife ?

Xeal's picture

Mohon pencerahannya,bro. Saya yg sedang cari asuransi.
Jika dilihat dr premi ul pd umumnya,min.300-500rb/bulan.
Utk termlife,saya ambil cth proactive, hasil gugel bahwa min.premi 4jt/thn.
Kurang lebih tipis perbedaan utk hal premi.

Namun utk termlife, kita hanya dpt perlindungan tanpa ada nilai investasi(belum ketemu dgn produk yg ada bonus pengembalian premi jika kontrak habis tnp claim). Sedangkan ul ada nilai investasinya *walaupun kecil.

Jika dilihat dr sisi ini, apakah bs dikatakan ul lbh unggul ?
Mohon koreksi.

*utk investasi, saya sudah positip sejak kenalan ma om autogebet ?

Proteksi (asuransi)_comment utk Bro Xeal

Dhani Purnomo's picture

Bro Xeal, mungkin awalnya gini dulu:
Bro perlu proteksi (asuransi jiwa) utk apa ya? Klo bro msh single, istri kerja (mandiri secara finansial) & blm pny anak, tdk menanggung orang tua --> mungkin Bro justru tdk perlu proteksi. Krn asuransi term life itu utk melindungi si pencari nafkah. Klo dia sdh (maaf) tdk ada maka orang2 yg menjadi tanggungannya terlindungi kebutuhan finansialnya (yg diambil dari Uang Pertanggungannya).

Nah katakan Bro pny tanggungan istri + anak 1thn. Mungkin bro perlu ambil term life 20thn (dianggap anak setelah usia 21thn sdh mandiri). Lalu klo rata2 pengeluaran bulanan 1jt, Bro perlu kira2 UP yg diperlukan brp, seandainya (maaf lagi nih) Bro di perjalanan 20thn itu ngg ada. UP unit link yg skrg keliatannya besar 300jt (cukup utk 300 bln kebutuhan bulanan), nah jangan2 katakan 15-20thn lagi hny cukup utk 24 bulan aja.

Gitu sih hasil googling yg ane interpretasikan sendiri. Maaf jika salah/ tdk berkenan. Mungkin harus ditambahin jg "disclaimer": keputusan membeli menjadi tanggung jawab masing2. Hehehe soale ane ngg bersertifikat di bidang financial planner, modal uncle google ajeh

Dipisah aja

acungin88's picture

menurut saya semua kembali ke UP nya? besaran mana? Seharusnya dengan premi sama, termlife UP lebih besar dari UP nya unit link. Kalo unit link memang ada yang kembali karena diinvestasikan. Tapi jeblok investasinya. Belum lagi 1-3 tahun pertama uangnya buat biaya akuisisi, untuk investasi nol

Apakah bisa dikatakan "at

Xeal's picture

Apakah bisa dikatakan "at least bisa dapat sedikit dana daripada tidak ada sama sekali" ?

Tapi faktor nilai UP bisparitas nya lumayan tinggi.

asuransi fokus di proteksi, investasi fokus di imbal hasil

acungin88's picture

Gue dari tahun 2008 ikut UL, preminya 500rb / bln, ternyata breakdownnya 185rb utk premi asuransi (bahasanya biaya akuisisi), selebihnya 300rb sekian untuk diinvestasikan di unit link. Tapi UL nya jeblok. At least dibawah RDS idaman. Jadi gue cairkan, redeem aja ke RDS yang bagus.

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.